Sabtu, 05 Januari 2013

Jeritan dalam Gelap (Mimpi berbingkai)

Pada hari selasa pagi, di kelas ada rapat mengenai kegiatan pecinta alam. Mereka berencana untuk mengadakan outbound di desa di pinggir kota. Mereka sengaja mengundangku sebagai perwakilan kelas.
"Kenapa harus saya?" Tanya saya
"Ya gak apa apa lah. Toh kamu juga mau kan?" Salah satu anggota menjawab.
"Iya juha sih. Ya okelah.....! Toh pengalaman baru."

Saya dengan pasrah menerima tawaran mereka. Namun belum tentu ortu saya mengijinkan untuk pergi.
Bel sekolah pertanda pulang berbunyi. Saya bersiap siap untuk pulang. Belum sampai di depan gerbang, salah seorang anggota pecinta alam memanggilku.
"Fatur....!!" Lantang  Arief memanggilku.
"Ya.... kenapa rif...?"
"Ketua lupa kasih ini ke kamu. Surat ijin ke orang tua. Siapa tau perlu."
"Oh ya. Thanks ya rif...!"
"No problem.....! See ya in a journey......!!"
"Hai...... wakatta...."
Surat ijin yang kuterima kulirik sejenak. Entah apakah ku sanggup untuk menyampaikan ke orang tua ku. Terutama ibu lah yang paling khawatir ketika anak anaknya pergi ke hutan, walaupun pergi bersama teman dan guru pembimbing.
Setiba di rumah. Saya langsung menyapa ibu.
"Asslamualaykum."
"Wa alaykumsalam."
"Lagi masak bu....??"
"Iya..... masak makanan kesukaan bapak. Kamu ganti baju dulu. Terus makan."
"Gak usah bu. Saya sudah makan di sekolah tadi"
"Ya udah ganti baju sana......!!"
"Iya bu......"
Malam tiba. Kegiatan rutin baca buku saya lakukan. Dari biografi, buku motivasi sampai metik jika bosan baca bacaan ringan. Asik membaca, hape saya berdering, namun hanya sms dari Gisel yang menanyakan pekerjaan rumah.
"Besok ada peer kah??" Gisel
"Gak ada, tapi buat lusa ada Fisika" Saya membalas.
Waktu tidur datang. Tibalah saatnya untuk tidur. Sebelum tidur, tiba tiba saya teringat tentang surat ijin yang diberikan Arief tadi siang. Dan itu belum kuberikan kepada orang tua saya. Biarlah, besok pagi saja saya bicarakan.
Waktu outbound pun tiba. Segala perlengkapan dan bekal sudah saya persiapkan di dalam tas. Saya tiba paling akhir di sekolah. Yang pada akhirnya saya tidak ikut pengarahan dari guru pembimbing. Bis yang mengantarkan kami ke lokasi sudah siap untuk berangkat. Saya duduk di samping ketua kelompong pecinta alam. Berhubung tadi tidak ikut briefing, saya bertanya langsung dengan sang ketua.
"Bos, sampai di sama nanti ngapain aja....??"
"Sampai sana nanti kita pecah menjadi 4 kelompok. Jadi satu kelompok ada 5 orang. Setiap kelompok di kasih tugas untuk melewati jalur yang sudah ditentukan. Kelompok satu melewati jalur pertanian. Kelompok 2 dan 3 melewati jembatan menyebrangi sungai di dalam hutan. Lalu berpisah ke barat dan timur. Lalu kelompok 4 melewati desa dan padang ilalang. Bis ini akan berhenti di 3 tempat sesuai dengan jalur setiap kelompok. Kamu berada di kelompok 3 bersama saya dan Arief. Setelah menyebrang jembatan, kita pergi ke timur untuk bertemu dengan kelompok 4 di ujung padang ilalang. Sudah mengeti?"
"Ok bos.....!!!"
Bis akhirnya tiba di spot kelompok 2 dan 3. Saya dan yang lain turumpn dari bis. Tak ada pembimbing yang menemani. Hanya ketua kelompok yang memandu dengan peta dan kompas. Ketua kelompok saya bukanlah ketua PA, melainkan Arief. Dan saya ditugaskan sebagai navigator, karena pengalaman tersesat saat liburan di luar kota. Hebat......
Kami akhirnya tiba di jembatan. Saya dan navigator kelompok 2 melihat sejenak ke bawah. Diperkirakan tinggi jembatab sekitar 20 meter. Dengan arus sungai yang tidak terlalu deras,namum banyak bebatuan di tengah sungai. Setelah melihat lihat, Arief menyuruh anggotanya untuk jalan satu persatu. Kelompok 2 mulai duluan. Lalu dilanjutkan dengan kelompok kami. Arief dan saya berjalan terakhiran.
"Hati hati saat berjalan....." Arief berkata
Sesampai di tengah jembatan, saya merasakan kayu yang saya pijak terasa lapuk. Saya akhirnya berhenti sejenak. Arief dan yang lain sudah sampai di seberang.
"Ayo tur.... buruan!!" Arief berseru
"Oh ya"
Belum ada 2 langkah, kayu yang saya pijak tiba tiba patah dan membuat saya terjatuh. Sungai dan batuannya telah menungguku. Tangan saya masih berpegangan pada kayu jembatan yang belum patah. Saya berusaha untuk naik ke atas. Kepala dan pundak saya sudah berada di permukaan. Arief datang untuk membantu saya. Namun nahas,kayu tempat tangan saya berpijak di injak Arief. Kayu itupun akhirnya patah. Setelah itu pandangan saya langsung gelap.
Dalam kegelapan, banyak suara yang saya dengar.
"Fatur....!! Fatur....!! Fatur.....!!" Suara memanggilku. Saya rasa itu suara ibu saya dan Arief.
"Kondisi bagaimana sus....??"
"Tekanan darah :&@!&$&@*" Sepertinya tadi suara dokter.
Begitu banyak suara yang kudengar. Namun pandanganku hanyalah gelap gulita. Ada satu suara yang terus kuingat sampai sekarang.
"Fatur.... Waktu pelajaran guru IPA kita marah marah lho. Gara gara anak anaknya gak ngerjain tugas lagi. Hehe..... Oh iya, si Aris kan kemaren ulang tahun. Dia dikerjain sama anak anaknya. Ekspresinya lucu banget lho. Sampai saya saja tertawa terbahak bahak...... ngebayangin nya aja masih membuatku tertawa."
Itu tadi adalah suara terpanjang yang pernah kudengar. Entah siapa yang bicara. Karena berbeda sekali dengan suara teman teman saya maupun orang yg saya kenal.
"Fatur.....!!" Seperti suara Indri
"Kelas terasa tak lengkap tanpa dirimu. Kami bertiga rindu kepadamu. Terutama saya, Tur....!! Kamu janji kita akan kerja kelompok bareng di rumahmu. Cuma kamu yang mau menerimaku dalam kelompokmu, Sementara M@#$ dan &$/(-  join dengan kelompok lain. Tolong tur...." Tiba tiba suara itu hilang.
Dalam gelap, suara pengajian dari masjid berkumandang. Mau sholat shubuh. Saya akhirnya terbangun dan dapat melihat lagi. Ternyata saya berada di kamar saya. Dan ternyata tadi hanya mimpi. Syukurlah..... kupikir saya di rumah sakit. Dan ternyata ini masih hari rabu.........
Paginya, saya rasa tidak perlu minta ijin outbound. Karena mimpi itu saya mengurungkan diri untuk ikut.