Selasa, 08 Januari 2013

Cerita sang Sang Guru

Ini cerita setahun yang lalu. Waktu itu pelajaran atau pembekalan sebelum kami turun ke lapangan untuk kerja magang. Kegiatan ini wajib diikuti semua peserta didik. Saya masih duduk sama Aris, belum sama Maja dan 2 orang di depan. Maja masih duduk sama Iman. Sementata mereka berdua (Indri & Gisel) sudah duduk bersama.
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Beberapa saat kemudian, guru sejarah, sebut saja Ibu Siska masuk ke kelas kami. Dia bukan guru yang mengajar di kelas saya. Namun dia hanya disuruh untuk mengisi pembekalan magang.

"Siang anak anak....!!" Sang ibi menyapa.
"Siang ibu.....!!" Sekelas menjawab.
Setelah pembukaan dan perkenalan dari Ibu Siska, dia langsung masuk ke pada inti masalah. Membicarakan tentang sopan santun dan apa saja yang harus ditaati selama magang berlangsung. Mungkin tetdengar suntuk, ya emank sih..... :(
Lama mrndengar Ibu Siska berbicara tentang peraturan, karena waktu masih panjang, Ibu Siska mengisinya dengan bercerita tentang masa masa perjuangan kuliah.
Story
Pada saat ibu lulus dari SMA dulu, ibu dulu sekolah di Banyuwangi. Jadi pindah ke sini sekitar tahun 2004. Pada saat mau melanjutkan kuliah di kota Malang, ibu berjuang keras untuk bisa lulus seleksi SMPTN. Ibu belajar dari pagi hingga bosan, biasanya 2 jam udah suntuk.
Waktu itu ibu mendaftar kuliah di Univ Muhammadiyah Malang. Seleksinya sangat ketat. Dan soal psikotesnya sangat sulit. Namun Alhamdulillah ibu lulus seleksi.
Saat kuliah, sebenarnya ibu tidak punya uang untuk membayar iuran. Dan terlebih lagi ibu tidak sanggup untuk terima penawaran beasiswa karena tesnya sangat sulit. Akhirnya ibu memutuskan untuk kuliah sambil kerja. Kerja apapun ibu lakukan, kecuali yang haran lho ya....???!!!! Hahaha.... 
Setelah lama belajar, waktu skripsi pun datang. Tau skripsi kan.....??? Pasti tau dong...!! Waktu itu skripsi ibu ada beberapa jenis dan hanya boleh pilih salah satu. Ada skripsi lapangan, atau skripsi bedah buku. Ibu pilih yang bedah buku, karena katanya lebih tinggi daripada skripsi lapangan. Ibu lupa dulu bedah buku apa, namun secara singkat,buku itu berisi tentang dinamika masyarakat Eropa era Barok dan Romance (jika tidak salah itu jaman Vivaldi dan Beethoven). Dengan bedah buku itu, akhirnya ibu lulus ujian skripsi,dan beberapa bulan kemudian ibu di wisuda.
Setelah lulus, ibu buka usaha di kost. Kecil kecilan namun menjanjikan. Yaitu usaha buat skripsi bedah buku.
Dalam usaha, ibu kenal dengan junior ibu waktu kuliah. Namanya Budi. Dia orangnya baik, banyak nanya, aktif, namun pecandu narkoba. 3 bulan sebelum dia skripsi,dia sering mampir ke kost-an ibu untuk sekedar bertanya dan sharing masalah bedah buku. Dari sifatnya, memang tidak ada yang mencurigakan, seperti halnya pecandu narkoba pada umumnya. Padahal ibu tau dia pecandu. Orangnya baik sama ibu. Dan dia selalu minta tolong saya menyusun skripsinya. Ya ibu bantu.
Beberapa hari sebelum skripsi si Budi. Dia jarang mampir lagi di kost-an. Padahal tugasnya belum rampung. Saya tanya dengan teman temannya. Katanya dia juga sudah jarang ke kampus. Perkiraab ibu, ni orang pasti nyabu lagi.
Beberapa hari kemudian, di depan kost-an ibu ada bercak bercak darah di teras kost-an. Awalnya ibu takut membuka pintu, dalam benak ibu,"Ini ada orang bunuh diri apa....??!!" Saat membuka pintu,yang ibu lihat adalah Budi terkapar lemas dengan luka sayatan pada tangan. Ibu langsung menghampirinya.
"Budi.....!!!"
"Hay kak....." dengan lemas berbicara...
"Kamu kenapa lagi....??"
"Biasa lah kak. Tau kan...??"
"Aduh Budi..."
Budi hanya tersenyum kepada ibu.
Siska  : Kamu kenapa sih pakai sabu...??
Budi  : Saya stress kak. Dari SMP saya sudah di telantarkan orang tua saya karena sering tawuran. Awalnya saya cuma ngerokok dan minum minum....
Siska  : (sambil cari perban dan kain) tapi kamu sebenarnya pintar lho bud.....
Budi  : Itu hanya kebetulan kak......
Siska  : Gak ada yg kebetulan di dunia ini. Semua telah ditakdirkan Tuhan.
Budi  : (dengan wajah pucat) Iya kak....
Siska  : (membidai dengan serius)
Budi  : Kak....!!
Siska  : Kenapa...??
Budi   : Saya boleh tinggal di sini dulu gak...??
Siska  : Memang kenapa dengan kost-an mu?
Budi  : Saya diincar polisi...
Lama kami bercerita tentang dirinya. Sampai akhirnya dia minta ibu memangku kepalanya di paha ibu. Di situ ia banyak curhat tentang keluarganya. Sampai akhinya, ia berkata "Kak, makasih banget mau bantuin saya. Kakak baik banget, cantik lagi. Kakak mau gak nikah sama saya..??". Ibu hanya bisa terdiam dan mengeluarkan air mata. Ibu hanya bisa bilang "Kamu sehat dulu ya..!".
Beberapa saat kemudian, ibu sudah tidak bisa merasakan kehadiran Budi lagi. Matanya terpejam, dan tak ada nafas berhembus. Ia telah tiada, passed away di pangkuan ibu.
Begitulah nak kalau terjerat narkoba. Gak bisa lepas.
End
Dalam pikiranku "Sungguh karangan yang indah......"

Tidak ada komentar: